(+62) 822-5387-3920

Jl. Husein Hamzah, Sungai Jawi Dalam Kecamatan Pontianak Barat

HAKIKAT QURBAN

Ibadah Qurban yang kita laksanakan setiap bulan Dzulhijjah bukan sekadar ritual tahunan memotong hewan ternak. Di balik tumpahan darah dan pembagian dagingnya, tersimpan makna filosofis dan spiritual yang mendalam bagi setiap Muslim. Berikut adalah esensi atau hakikat dari ibadah Qurban:

1. Bentuk Ketundukan Total kepada Allah

Secara etimologi, Qurban berasal dari kata Qaruba yang berarti dekat. Maka, hakikat utama qurban adalah upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Ibadah ini merefleksikan kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail AS. Hakikatnya bukan tentang “kematian” Ismail, melainkan tentang penyembelihan ego dan rasa memiliki yang berlebihan terhadap dunia. Qurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus di atas segalanya.

2. Menyembelih Sifat Kebinatangan

Dalam diri manusia, terdapat nafsu yang seringkali menyerupai sifat binatang: rakus, mau menang sendiri, kejam, dan tidak mengenal aturan. * Penyembelihan hewan secara fisik adalah simbolisasi dari penyembelihan sifat buruk tersebut. Dengan berqurban, kita diajak untuk menjinakkan nafsu rendah agar jiwa kita naik ke derajat mutmainnah (jiwa yang tenang).

3. Ketakwaan adalah Inti, Bukan Daging

Seringkali kita terjebak pada gengsi ukuran hewan atau jenis ras sapi yang mahal. Namun, Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37) Hakikat qurban adalah keikhlasan. Tanpa rasa ikhlas dan takwa, ritual ini hanya akan menjadi festival sate massal tanpa nilai pahala di sisi-Nya.

4. Manifestasi Kesalehan Sosial

Islam tidak hanya mengatur hubungan hamba dengan Tuhan (Hablum Minallah), tapi juga antar sesama manusia (Hablum Minannas). Pemerataan Gizi: Qurban menjadi momen di mana masyarakat kurang mampu dapat menikmati protein hewani yang mungkin jarang mereka konsumsi sehari-hari. Pengikis Kesenjangan: Saat pembagian daging, tidak ada lagi sekat antara si kaya dan si miskin. Semua merasakan kebahagiaan yang sama. Menghayati hakikat qurban berarti memahami bahwa hidup adalah tentang pengorbanan. Kita mengorbankan harta yang kita cintai (hewan ternak) untuk mendapatkan cinta yang lebih besar (ridha Allah). Mari berquban melaui LAZIZNU Kalbar semoga qurban kita tahun ini tidak hanya meninggalkan bekas di pisau penyembelih, tetapi juga membekas dalam perubahan karakter kita menjadi pribadi yang lebih peduli dan bertakwa.

KH. Nasiruddin, M.S.I

“Sedekah menutup 70 pintu keburukan.”

HR. Thabrani

Scroll to Top